Lagi pengen ngomongin orang
Barusan waktu gabut liat-liat IG, tiba-tiba muncul ada postingan temen lama yang lagi kuliah di Jerman, terus jadi keingetan. Namanya Sarah. Temen aku yang namanya Sarah ini aku akuin banget hidupnya cukup beruntung. Dari sisi positive-nya, anak ini memang selalu mengucap syukur baik dalam ucapan ataupun postingan sosmednya. Dan ya, memang ucapan jadi doa ya, hidup dia menjadi seberuntung itu bisa kuliah di Jerman dan pacarnya ganteng pula.
Tapi bukan soal ini yang pengen aku ceritain. Jadi, beberapa tahun yang lalu, aku pernah kerja di salah satu tempat les Bahasa Inggris di Bandung. Awal masuk udah ada senior yang lebih muda kerja di sana lebih lama 7 bulan. Disitulah aku ketemu bocah yang namanya Sarah itu. Dia orang Medan asli yang mencoba merantau ke Bandung buat kerja sambil kuliah. Umurnya jelas jauuuh di bawah aku dan waktu itu dia baru banget lulus SMA. Seumur hidupnya, dia baru banget keluar dari kampungnya di Medan. Menurut dia, kampung halamannya di Medan ini jauh banget dari kota. Harus melewati sungai dan hutan dulu ke peradaban di mana dia tinggal. Bahkan konon katanya, orang-orang di kampungnya kalo berantem ya bunuh-bunuhan aja, udah biasa. Nah, karena memang lingkungan dia yang jauh dari peradaban itu, dia memang agak kesulitan menyesuaikan diri dengan orang-orang di kantor, murid-murid yang les dan orang-orang Bandung lainnya yang dia temui. Kita malah ngeliat cara dia bersosialisasi aneh. Sampai pada suatu ketika dia dimusuhin sama semua orang di kantor. Ada yang nunjukkin ketidak sukaannya dan ada juga yang cuma ngedumel dibelakangnya. Nah gimana sih bocah ini anehnya? Pernah di suatu ketika aku lagi scroll-scroll HP di jam istirahat. Sarah dateng "kak, liat HP lo dong!" aku kasiin lah. Tiba-tiba dia buka-buka gallery foto dan nyeletuk "kak, gw kasi tau lo ya, lo mau foto-foto kayak gimana juga ya muka lo kayak gitu-gitu aja tau gak!". Dalam hati aku "lagian yang bilang muka gw jadi kayak Selena Gomez juga siapa?" cuma ya kan dia bocil dan aku tua, ya udah lah diemin aja. Gak pantes kayaknya aku lawan. Pernah juga ya si Sarah ini ngomentarin sepatu yang aku pake "kak, sepatu lo tuh pasaran tau ga!" dan masih banyak lagi komentar polos menyebalkan lainnya. Sampai di suatu ketika, aku ketemu sarah pagi hari dengan potongan rambut baru. Aku kayak "tahan-tahan Merry jangan komentar, tahan". Kemudian ternyata aku gak tahan komentar "Sar, rambut baru yah? kok jelek?"
Komentar